ASKEP KEJANG DEMAM DAN TIFOID PADA ANAK
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di banyak negara berkembang, termasuk di Indonesia, demam tifoid masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat, berbagai upaya yang dilakukan untuk memberantas penyakit ini tampaknya belum memuaskan. Di seluruh dunia WHO memperkirakan pada tahun 2000 terdapat lebih dari 21,65 juta penderita demam tifoid dan lebih dari 216 ribu diantaranya meninggal . Di Indonesia selama tahun 2006, demam tifoid dan demam paratifoid merupakan penyebab morbiditas peringkat 3 setelah diare dan Demam Berdarah Dengue. Kejadian demam tifoid meningkat terutama pada musim hujan.Usia penderita di Indonesia (daerah endemis) antara 3-19 tahun (prevalensi 91% kasus). Dari presentase tersebut, jelas bahwa anak-anak sangat rentan untuk mengalami demam tifoid.
Selain demam tifoid, kejang demam juga merupakan suatu keadaan yang yang dapat dialami oleh seorang anak, terutama pada golongan umur 6 bulan sampai 4 tahun. Hampir 3% daripada anak yang berumur di bawah 5 tahun pernah menderitanya (Millichap, 1968).
Oleh karena demam tifoid dan kejang demam ini adalah keadaan yang berbahaya bagi seorang anak, bahkan (tifoid) dapat menyebabkan kematian, maka sebagai mahasiswa keperawatan perlu mengetahui tentang “DEMAM TIFOID DAN KEJANG DEMAM”, agar dapat menangani masalah tersebut sesuai dengan teori keperawatan pada kasus tersebut. Hal ini diharapkan dapat memecahkan masalah atau setidaknya dapat memberikan pengetahuan kepada kita tentang masalah yang terjadi di negara kita ini.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka penulis dapat merumuskan masalah:
Konsep dasar Demam Tifoid dan Kejang Demam
Asuhan Keperawatan dari Demam Tifoid dan Kejang Demam
1.3 Tujuan Makalah
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu
agar mahasiswa mengetahui dan memahami konsep dasar teori dari Demam Tifoid dan Kejang Demam
agar mahasiswa mengerti dan memahami Asuhan Keperawatan dari Demam Tifoid dan Kejang Demam.
1.4 Kegunaan Makalah
Dalam penyusunan makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pemahaman tentang Demam Tifoid dan Kejang Demam, agar dapat meningkatkan derajat kesehatan anak. Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis, umumnya bagi pembaca.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Demam Tifoid
A. PENGERTIAN
Penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella.( Bruner and Sudart,1994 ).
Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu , gangguan dari saluran pencernaan dan gangguan kesadaran. (staff pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI).
B. ETIOLOGI
Penyebab demam tifoid dan demam paratifoid adalah S.typhi, S.paratyphi A, S.paratyphi B dan S.paratyphi C. (Arjatmo Tjokronegoro, 1997). Ada dua sumber penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam tifoid dan pasien dengan carier. Carier adalah orang yang sembuh dari demam tifoid dan masih terus mengekresi salmonella typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.
C. PATOFISIOLOGI
Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food(makanan), Fingers(jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly(lalat), dan melalui Feses.
Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.
Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.
Masa inkubasi demam tifoid berlangsung selama 7-14 hari (bervariasi antara 3-60 hari) bergantung jumlah dan strain kuman yang tertelan. Selama masa inkubasi penderita tetap dalam keadaan asimtomatis. (Soegeng soegijanto, 2002)
Patofisiologi Demam Tifoid
D. GEJALA KLINIS
Masa inkubasi: 10-14 hari.
* Penderita < 5 tahun, tanda klinisnya tidak khas.
* Penderita > 5 tahun:
a. Demam selama satu minggu atau lebih, terutama sore atau malam hari.
b. Lidah tifoid (tremor, di bagian tengah kotor, di bagian tepi hiperemis/memerah, lidah tampak kering; dilapisi selaput tebal)
c. Pembesaran limpa/lien (splenomegali), pembesaran hati/liver (hepatomegali). Hepatomegali lebih sering dijumpai daripada splenomegali.
d. Nyeri tekan/spontan di daerah McBurney (di perut kanan bawah), sedangkan di sisi kiri normal/kurang nyeri.
e. Meteorismus (kembung; terdapatnya gas di perut dan usus)
f. Dapat disertai diare atau konstipasi (sembelit).
g. Dapat disertai batuk
batuk, anorexia (seleramakan menurun/menghilang), lethargy (sensasi mengantuk yang
hebat), delirium (mengigau), nyeri kepala, nyeri perut.
h. Dapat disertai penurunan kualitas/fungsi pendengaran (agak tuli).
i. Bila berat dapat dijumpai penurunan kesadaran, kejang, dan ikterus.
Gambaran klinis:
E. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain: perforasi usus, perdarahan, toksemia dan kematian. (Ranuh, Hariyono, dan dkk. 2001)
Perdarahan usus, peritonitis, meningitis, kolesistitis, ensefalopati, bronkopneumonia, hepatitis. (Arif mansjoer & Suprohaitan 2000)
Perforasi usus terjadi pada 0,5-3% dan perdarahan berat pada 1-10% penderita demam tifoid. Kebanyakan komplikasi terjadi selama stadium ke-2 penyakit dan umumnya didahului oleh penurunan suhu tubuh dan tekanan darah serta kenaikan denyut jantung.Pneumonia sering ditemukan selama stadium ke-2 penyakit, tetapi seringkali sebagai akibat superinfeksi oleh organisme lain selain Salmonella. Pielonefritis, endokarditis, meningitis, osteomielitis dan arthritis septik jarang terjadi pada hospes normal. Arthritis septik dan osteomielitis lebih sering terjadi pada penderita hemoglobinopati. (Behrman Richard, 1992)
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Darah Perifer Lengkap : Dapat ditemukan leukopeni, dapat pula leukositosis atau kadar leukosit normal. Leukositosis dapat terjadi walaupun tanpa disertai infeksi sekunder.
2. Pemeriksaan SGOT dan SGPT : SGOT dan SGPT sering meningkat, tetapi akan kembali normal setelah sembuh. Peningkatan SGOT dan SGPT ini tidak memerlukan penanganan khusus
3. Pemeriksaan Uji Widal : Uji Widal dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap bakteri Salmonella typhi. Uji Widal dimaksudkan untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita Demam Tifoid. Akibat adanya infeksi oleh Salmonella typhi maka penderita membuat antibodi (aglutinin) yaitu:
Aglutinin O: karena rangsangan antigen O yang berasal dari tubuh bakteri
Aglutinin H: karena rangsangan antigen H yang berasal dari flagela bakteri
Aglutinin Vi: karena rangsangan antigen Vi yang berasal dari simpai bakter.
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglitinin O dan H yang digunakan untuk diagnosis Demam Tifoid. Semakin tinggi titernya semakin besar kemungkinan menderita Demam Tifoid. (Widiastuti Samekto, 2001)
G. TERAPI
- Kloramfenikol.
Anak : 50-75 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi tiap 6 jam.
Bayi < 2 minggu : 25 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis terbagi tiap 6 jam. Berikan dosis lebih tinggi untuk infeksi lebih berat. Setelah umur 2 minggu bayi dapat menerima dosis sampai 50 mg/kgBB/ hari dalam 4 dosis tiap 6 jam.
- Tiamfenikol.
- Kortimoksazol. Dosis 2 x 2 tablet (satu tablet mengandung 400 mg sulfametoksazol dan 80 mg trimetoprim)
- Ampisilin dan amoksilin. Dosis berkisar 50-150 mg/kg BB, selama 2 minggu
- Sefalosporin Generasi Ketiga. dosis 3-4 gram dalam dekstrosa 100 cc, diberikan selama ½ jam per-infus sekali sehari, selama 3-5 hari
- Golongan Fluorokuinolon
- Norfloksasin : dosis 2 x 400 mg/hari selama 14 hari
- Siprofloksasin : dosis 2 x 500 mg/hari selama 6 hari
- Ofloksasin : dosis 2 x 400 mg/hari selama 7 hari
- Pefloksasin : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari
- Fleroksasin : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari
- Kombinasi obat antibiotik. Hanya diindikasikan pada keadaan tertentu seperti: Tifoid toksik, peritonitis atau perforasi, syok septik, karena telah terbukti sering ditemukan dua macam organisme dalam kultur darah selain kuman Salmonella typhi. (Widiastuti S, 2001)
H.PENATALAKSANAAN
Perawatan dan pengobatan terhadap penderita penyakit demam Tifoid atau types bertujuan menghentikan invasi kuman, memperpendek perjalanan penyakit, mencegah terjadinya komplikasi, serta mencegah agar tak kambuh kembali. Pengobatan penyakit tifus dilakukan dengan jalan mengisolasi penderita dan melakukan desinfeksi pakaian, faeces dan urine untuk mencegah penularan. Pasien harus berbaring di tempat tidur selama tiga hari hingga panas turun, kemudian baru boleh duduk, berdiri dan berjalan.
Selain obat-obatan yang diberikan untuk mengurangi gejala yang timbul seperti demam dan rasa pusing (Paracetamol), Untuk anak dengan demam tifoid maka pilihan antibiotika yang utama adalah kloramfenikol selama 10 hari dan diharapkan terjadi pemberantasan/eradikasi kuman serta waktu perawatan dipersingkat. Namun beberapa dokter ada yang memilih obat antibiotika lain seperti ampicillin, trimethoprim-sulfamethoxazole, kotrimoksazol, sefalosporin, dan ciprofloxacin sesuai kondisi pasien. Demam berlebihan menyebabkan penderita harus dirawat dan diberikan cairan Infus.
Cara pemberian kompres hangat pada anak dengan typhoid
Kompres hangat akan menurunkan suhu anak dalam waktu 30-45 menit. Oleh karena itu, lakukanlah kompres hangat bila suhu anak sangat tinggi. Kompres hangat ini juga membantu anak agar lebih comfortable.
Cara mengompres anak demam:
a) Kompres sebaiknya menggunakan air hangat, tidak menggunakan alkohol karena uap alkohol sangat berbahaya dan dapat menyebabkan iritasi pada kulit.
b) Kompres akan lebih efektif apabila dilakukan pada daerah yang mengandung banyak pembuluh darah, seperti ketiak, lipat paha atau selangkangan dan dahi.
c) Taruh anak di bath up/ ember mandi yang diisi air hangat bersuhu 30-32° C.
d) Usapkan air hangat di sekujur tubuh bayi/ anak.
e) Bila anak menolak, suruh duduk di ember / bath up, beri mainan, ajak bermain
A. Medikamentosa
1. Pilihan antibiotik yang dapat digunakan:
a. Kloramfenikol (drug of choice) 50-100 mg/kg berat badan/hari, oral atau intravena, dibagi dalam 4 dosis selama 10-14 hari.
b. Amoksisilin 100 mg/kg berat badan/hari, oral atau intravena, selama 10 hari.
c. Kotrimoksasol 6 mg/kg berat badan/hari, oral, selama 10 hari.
c. Kotrimoksasol 6 mg/kg berat badan/hari, oral, selama 10 hari.
d. Seftriakson 80 mg/kg berat badan/hari, intravena atau intramuskuler, sekali sehari, 5 hari.
e. Sefiksim 10 mg/kg berat badan/hari, oral, dibagi dalam 2 dosis, selama 10 hari.
2. Antipiretik
Diberikan bila demam > 39ºC. Dapat diberikan lebih awal bila ada riwayat kejang
demam.
3. Kortikosteroid
Diberikan pada kasus berat yang disertai gangguan kesadaran. Deksametason 1-3 mg/kg berat badan/hari, intravena, dibagi 3 dosis, hingga kesadaran membaik.
4. Pembedahan
4. Pembedahan
Diperlukan bila terjadi perforasi usus.
B. Pencegahan
1. Higiene, sanitasi, edukasi.
Mencegah demam tifoid adalah dengan meningkatkan higiene perorangan dan sanitasi lingkungan seperti: tidak jajan di sembarang tempat, mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, pengamanan pembuangan limbah feses (tinja), pemberantasan lalat, penyediaan air minum yang memenuhi syarat, penyuluhan masyarakat.
2. Imunisasi
2. Imunisasi
Vaksin yang digunakan adalah:
a. Vaksin yang dibuat dari Salmonella typhosa yang dimatikan. Pada pemberian oral, vaksin ini ternyata tidak memberikan perlindungan yang baik.
b. Vaksin yang dibuat dari strain Salmonella yang dilemahkan (Ty21-a). Diberikan secara oral, pada usia > 6 tahun, dengan interval selang sehari (hari 1, 3, 5), ulangan setiap 3-5 tahun. Vaksin ini memberikan perlindungan 87-95% selama 1,5 tahun.
c. Vaksin polisakarida kapsular Vi (Typhi Vi) Vaksin ini disuntikkan sc atau im 0,5 mL dengan booster (diulang setiap) 2-3 tahun.
2.2 Kejang Demam (Febris Konvulsi)
A. PENGERTIAN
Kesepakatan UKK Neurologi IDAI – Saraf Anak PERDOSSI , 2004, Kejang Demam adalah bangkitan kejang yg terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal >38º C) yg disebabkan oleh suatu proses ekstrakra- nial.
Catatan:- terjadi pd umur 6bln – 5thn à18bln
- belum pernah kejang tanpa demam
- tanpa ggn elektrolit/ metabolik berat
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu (suhu rectal
lebih dari 380C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium (di luar rongga kepala). (staff pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI).
Menurut Consensus Statement on Febrile Seizures (1980) kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau anak yang biasanya terjadi antara umur 3 bulan dan 5 tahun berhubungan dengan demam tetapi tidak pernah terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu. (http://www.mer-c.or)
B. ETIOLOGI
Hingga kini belum diketahui dengan pasti penyebab kejang demam. Demam sering disebabkan infeksi saluran pernafasan atas, radang telinga tengah, infeksi saluran cerna dan infeksi saluran kemih. Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang tinggi. Kadang kadang demam yang tidak begitu tinggi dapat menyebabkan kejang.
C. PATOFISIOLOGI
Kejang adalah manifestasi klinis khas yang berlangsung secara intermitten dapat berupa gangguan kesadaran, tingkah laku, emosi, motorik, sensorik, dan atau otonom yang disebabkan oleh lepasnya muatan listrik yang berlebihan di neuron otak. Status epileptikus adalah kejang yang terjadi lebih dari 30 menit atau kejang berulang lebih dari 30 menit tanpa disertai pemulihan kesadaran.
Mekanisme dasar terjadinya kejang adalah peningkatan aktifitas listrik yang berlebihan pada neuron-neuron dan mampu secara berurutan merangsang sel neuron lain secara bersama-sama melepaskan muatan listriknya. Hal tersebut diduga disebabkan oleh; 1] kemampuan membran sel sebagai pacemaker neuron untuk melepaskan muatan listrik yang berlebihan;
2] berkurangnya inhibisi oleh neurotransmitter asam gama amino butirat [GABA]; atau 3] meningkatnya eksitasi sinaptik oleh transmiter asam glutamat dan aspartat melalui jalur eksitasi yang berulang. Status epileptikus terjadi oleh karena proses eksitasi yang berlebihan berlangsung terus menerus, di samping akibat ilnhibisi yang tidak sempurna.
Menurut Prichard dan Mc Greal th 1958, patogenese dari kejang demam à Teori anoksia relatif :
Suhu ↑ à metabolisme otak ↑(vaskularisasi otak anak umur 3 th ± 65%) à glukosa & O² otak ↓à pompa ion Na-K terganggu à ggn permeabilitas ddg selà depolarisasi à kejang
D. KRITERIA KEJANG
Perbedaan antara kejang dan serangan yang menyerupai kejang
| Keadaan | Kejang | Menyerupai kejang | |
| Onset | Tiba-tiba | Mungkin gradual | |
| Lama serangan | Detik/menit | Beberapa menit | |
| Kesadaran | Sering terganggu | Jarang terganggu | |
| Sianosis | Sering | Jarang | |
| Gerakan ekstremitas | Sinkron | Asinkron | |
| Stereotipik serangan | Selalu | Jarang | |
| Lidah tergigit atau luka lain | Sering | Sangat jarang | |
| Gerakan abnormal bola mata | Selalu | Jarang | |
| Fleksi pasif ekstremitas | Gerakan tetap ada | Gerakan hilang | |
| Dapat diprovokasi | Jarang | Hampir selalu | |
| Tahanan terhadap gerakan pasif | Jarang | Selalu | |
| Bingung pasca serangan | Hampir selalu | Tidak pernah | |
| Iktal EEG abnormal | Selalu | Hampir tidak pernah | |
| Pasca iktal EEG abnormal | selalu | jarang | |
Sumber: Smith dkk (1998).
E. KLASIFIKASI
Secara umum, Kejang Demam dapat dibagi dalam dua jenis yaitu :
- Simple febrile seizures (Kejang Demam Sederhana/KDS) : kejang menyeluruh yang berlangsung < 15 menit dan tidak berulang dalam 24 jam.
- Complex febrile seizures / complex partial seizures (Kejang Demam Kompleks/KDK) : kejang fokal (hanya melibatkan salah satu bagian tubuh), berlangsung > 15 menit, dan atau berulang dalam waktu singkat (selama demam berlangsung).
