Senin, 22 Agustus 2011


ASKEP KEJANG DEMAM DAN TIFOID PADA ANAK

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di banyak negara berkembang, termasuk di Indonesia, demam tifoid masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat, berbagai upaya yang dilakukan untuk memberantas penyakit ini tampaknya belum memuaskan. Di seluruh dunia WHO memperkirakan pada tahun 2000 terdapat lebih dari 21,65 juta penderita demam tifoid dan lebih dari 216 ribu diantaranya meninggal . Di Indonesia selama tahun 2006, demam tifoid dan demam paratifoid merupakan penyebab morbiditas peringkat 3 setelah diare dan Demam Berdarah Dengue. Kejadian demam tifoid meningkat terutama pada musim hujan.Usia penderita di Indonesia (daerah endemis) antara 3-19 tahun (prevalensi 91% kasus). Dari presentase tersebut, jelas bahwa anak-anak sangat rentan untuk mengalami demam tifoid.
Selain demam tifoid, kejang demam juga merupakan suatu keadaan yang yang dapat dialami oleh seorang anak, terutama pada golongan umur 6 bulan sampai 4 tahun. Hampir 3% daripada anak yang berumur di bawah 5 tahun pernah menderitanya (Millichap, 1968).
Oleh karena demam tifoid dan kejang demam ini adalah keadaan yang berbahaya bagi seorang anak, bahkan (tifoid) dapat menyebabkan kematian, maka sebagai mahasiswa keperawatan perlu mengetahui tentang “DEMAM TIFOID DAN KEJANG DEMAM”, agar dapat menangani masalah tersebut sesuai dengan teori keperawatan pada kasus tersebut. Hal ini diharapkan dapat memecahkan masalah atau setidaknya dapat memberikan pengetahuan kepada kita tentang masalah yang terjadi di negara kita ini.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka penulis dapat merumuskan masalah:
Konsep dasar Demam Tifoid dan Kejang Demam
Asuhan Keperawatan dari Demam Tifoid dan Kejang Demam
1.3 Tujuan Makalah
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu
agar mahasiswa mengetahui dan memahami konsep dasar teori dari Demam Tifoid dan Kejang Demam
agar mahasiswa mengerti dan memahami Asuhan Keperawatan dari Demam Tifoid dan Kejang Demam.
1.4 Kegunaan Makalah
Dalam penyusunan makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pemahaman tentang Demam Tifoid dan Kejang Demam, agar dapat meningkatkan derajat kesehatan anak. Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis, umumnya bagi pembaca.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1  Demam Tifoid
A. PENGERTIAN
Penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella.( Bruner and Sudart,1994 ).
Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu , gangguan dari saluran pencernaan dan gangguan kesadaran. (staff pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI).
B. ETIOLOGI
Penyebab demam tifoid dan demam paratifoid adalah S.typhi, S.paratyphi A, S.paratyphi B dan S.paratyphi C. (Arjatmo Tjokronegoro, 1997). Ada dua sumber penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam tifoid dan pasien dengan carier. Carier adalah orang yang sembuh dari demam tifoid dan masih terus mengekresi salmonella typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.
C. PATOFISIOLOGI
Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food(makanan), Fingers(jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly(lalat), dan melalui Feses.
Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.
Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.
Masa inkubasi demam tifoid berlangsung selama 7-14 hari (bervariasi antara 3-60 hari) bergantung jumlah dan strain kuman yang tertelan. Selama masa inkubasi penderita tetap dalam keadaan asimtomatis. (Soegeng soegijanto, 2002)
Patofisiologi Demam Tifoid
D. GEJALA KLINIS
Masa inkubasi: 10-14 hari.
* Penderita < 5 tahun, tanda klinisnya tidak khas.
* Penderita > 5 tahun:
a. Demam selama satu minggu atau lebih, terutama sore atau malam hari.
b. Lidah tifoid (tremor, di bagian tengah kotor, di bagian tepi hiperemis/memerah, lidah tampak kering; dilapisi selaput tebal)
c. Pembesaran limpa/lien (splenomegali), pembesaran hati/liver (hepatomegali). Hepatomegali lebih sering dijumpai daripada splenomegali.
d. Nyeri tekan/spontan di daerah McBurney (di perut kanan bawah), sedangkan di sisi kiri normal/kurang nyeri.
e. Meteorismus (kembung; terdapatnya gas di perut dan usus)
f. Dapat disertai diare atau konstipasi (sembelit).
g. Dapat disertai batuk
batuk, anorexia (seleramakan menurun/menghilang), lethargy (sensasi mengantuk yang
hebat), delirium (mengigau), nyeri kepala, nyeri perut.
h. Dapat disertai penurunan kualitas/fungsi pendengaran (agak tuli).
i. Bila berat dapat dijumpai penurunan kesadaran, kejang, dan ikterus.
Gambaran klinis:
E. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain: perforasi usus, perdarahan, toksemia dan kematian. (Ranuh, Hariyono, dan dkk. 2001)
Perdarahan usus, peritonitis, meningitis, kolesistitis, ensefalopati, bronkopneumonia, hepatitis. (Arif mansjoer & Suprohaitan 2000)
Perforasi usus terjadi pada 0,5-3% dan perdarahan berat pada 1-10% penderita demam tifoid. Kebanyakan komplikasi terjadi selama stadium ke-2 penyakit dan umumnya didahului oleh penurunan suhu tubuh dan tekanan darah serta kenaikan denyut jantung.Pneumonia sering ditemukan selama stadium ke-2 penyakit, tetapi seringkali sebagai akibat superinfeksi oleh organisme lain selain Salmonella. Pielonefritis, endokarditis, meningitis, osteomielitis dan arthritis septik jarang terjadi pada hospes normal. Arthritis septik dan osteomielitis lebih sering terjadi pada penderita hemoglobinopati. (Behrman Richard, 1992)
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Darah Perifer Lengkap : Dapat ditemukan leukopeni, dapat pula leukositosis atau kadar leukosit normal. Leukositosis dapat terjadi walaupun tanpa disertai infeksi sekunder.
2.      Pemeriksaan SGOT dan SGPT : SGOT dan SGPT sering meningkat, tetapi akan kembali normal setelah sembuh. Peningkatan SGOT dan SGPT ini tidak memerlukan penanganan khusus
3.      Pemeriksaan Uji Widal : Uji Widal dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap bakteri Salmonella typhi. Uji Widal dimaksudkan untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita Demam Tifoid. Akibat adanya infeksi oleh Salmonella typhi maka penderita membuat antibodi (aglutinin) yaitu:
Aglutinin O: karena rangsangan antigen O yang berasal dari tubuh bakteri
Aglutinin H: karena rangsangan antigen H yang berasal dari flagela bakteri
Aglutinin Vi: karena rangsangan antigen Vi yang berasal dari simpai bakter.
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglitinin O dan H yang digunakan untuk diagnosis Demam Tifoid. Semakin tinggi titernya semakin besar kemungkinan menderita Demam Tifoid. (Widiastuti Samekto, 2001)

G. TERAPI

  1. Kloramfenikol.
Anak : 50-75 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi tiap 6 jam.
Bayi < 2 minggu : 25 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis terbagi tiap 6 jam. Berikan dosis lebih tinggi untuk infeksi lebih berat. Setelah umur 2 minggu bayi dapat menerima dosis sampai 50 mg/kgBB/ hari dalam 4 dosis tiap 6 jam.
  1. Tiamfenikol.
  2. Kortimoksazol. Dosis 2 x 2 tablet (satu tablet mengandung 400 mg sulfametoksazol dan 80 mg trimetoprim)
  3. Ampisilin dan amoksilin. Dosis berkisar 50-150 mg/kg BB, selama 2 minggu
  4. Sefalosporin Generasi Ketiga. dosis 3-4 gram dalam dekstrosa 100 cc, diberikan selama ½ jam per-infus sekali sehari, selama 3-5 hari
  5. Golongan Fluorokuinolon
  • Norfloksasin              : dosis 2 x 400 mg/hari selama 14 hari
  • Siprofloksasin            : dosis 2 x 500 mg/hari selama 6 hari
  • Ofloksasin                 : dosis 2 x 400 mg/hari selama 7 hari
  • Pefloksasin                : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari
  • Fleroksasin                : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari
  1. Kombinasi obat antibiotik. Hanya diindikasikan pada keadaan tertentu seperti: Tifoid toksik, peritonitis atau perforasi, syok septik, karena telah terbukti sering ditemukan dua macam organisme dalam kultur darah selain kuman Salmonella typhi. (Widiastuti S, 2001)
H.PENATALAKSANAAN
Perawatan dan pengobatan terhadap penderita penyakit demam Tifoid atau types bertujuan menghentikan invasi kuman, memperpendek perjalanan penyakit, mencegah terjadinya komplikasi, serta mencegah agar tak kambuh kembali. Pengobatan penyakit tifus dilakukan dengan jalan mengisolasi penderita dan melakukan desinfeksi pakaian, faeces dan urine untuk mencegah penularan. Pasien harus berbaring di tempat tidur selama tiga hari hingga panas turun, kemudian baru boleh duduk, berdiri dan berjalan.
Selain obat-obatan yang diberikan untuk mengurangi gejala yang timbul seperti demam dan rasa pusing (Paracetamol), Untuk anak dengan demam tifoid maka pilihan antibiotika yang utama adalah kloramfenikol selama 10 hari dan diharapkan terjadi pemberantasan/eradikasi kuman serta waktu perawatan dipersingkat. Namun beberapa dokter ada yang memilih obat antibiotika lain seperti ampicillin, trimethoprim-sulfamethoxazole, kotrimoksazol, sefalosporin, dan ciprofloxacin sesuai kondisi pasien. Demam berlebihan menyebabkan penderita harus dirawat dan diberikan cairan Infus.
Cara pemberian kompres hangat pada anak dengan typhoid
Kompres hangat akan menurunkan suhu anak dalam waktu 30-45 menit. Oleh karena itu, lakukanlah kompres hangat bila suhu anak sangat tinggi. Kompres hangat ini juga membantu anak agar lebih comfortable.
Cara mengompres anak demam:
a) Kompres sebaiknya menggunakan air hangat, tidak menggunakan alkohol karena uap alkohol sangat berbahaya dan dapat menyebabkan iritasi pada kulit.
b) Kompres akan lebih efektif apabila dilakukan pada daerah yang mengandung banyak pembuluh darah, seperti ketiak, lipat paha atau selangkangan dan dahi.
c) Taruh anak di bath up/ ember mandi yang diisi air hangat bersuhu 30-32° C.
d) Usapkan air hangat di sekujur tubuh bayi/ anak.
e) Bila anak menolak, suruh duduk di ember / bath up, beri mainan, ajak bermain
A. Medikamentosa
1. Pilihan antibiotik yang dapat digunakan:
a. Kloramfenikol (drug of choice) 50-100 mg/kg berat badan/hari, oral atau intravena, dibagi dalam 4 dosis selama 10-14 hari.
b. Amoksisilin 100 mg/kg berat badan/hari, oral atau intravena, selama 10 hari.
c. Kotrimoksasol 6 mg/kg berat badan/hari, oral, selama 10 hari.
d. Seftriakson 80 mg/kg berat badan/hari, intravena atau intramuskuler, sekali sehari, 5 hari.
e. Sefiksim 10 mg/kg berat badan/hari, oral, dibagi dalam 2 dosis, selama 10 hari.
2. Antipiretik
Diberikan bila demam > 39ºC. Dapat diberikan lebih awal bila ada riwayat kejang
demam.
3. Kortikosteroid
Diberikan pada kasus berat yang disertai gangguan kesadaran. Deksametason 1-3 mg/kg berat badan/hari, intravena, dibagi 3 dosis, hingga kesadaran membaik.
4. Pembedahan
Diperlukan bila terjadi perforasi usus.
B. Pencegahan
1. Higiene, sanitasi, edukasi.
Mencegah demam tifoid adalah dengan meningkatkan higiene perorangan dan sanitasi lingkungan seperti: tidak jajan di sembarang tempat, mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, pengamanan pembuangan limbah feses (tinja), pemberantasan lalat, penyediaan air minum yang memenuhi syarat, penyuluhan masyarakat.
2. Imunisasi
Vaksin yang digunakan adalah:
a. Vaksin yang dibuat dari Salmonella typhosa yang dimatikan. Pada pemberian oral, vaksin ini ternyata tidak memberikan perlindungan yang baik.
b. Vaksin yang dibuat dari strain Salmonella yang dilemahkan (Ty21-a). Diberikan secara oral, pada usia > 6 tahun, dengan interval selang sehari (hari 1, 3, 5), ulangan setiap 3-5 tahun. Vaksin ini memberikan perlindungan 87-95% selama 1,5 tahun.
c. Vaksin polisakarida kapsular Vi (Typhi Vi) Vaksin ini disuntikkan sc atau im 0,5 mL dengan booster (diulang setiap) 2-3 tahun.
2.2 Kejang Demam (Febris Konvulsi)
A. PENGERTIAN
Kesepakatan UKK Neurologi IDAI – Saraf Anak PERDOSSI , 2004, Kejang Demam  adalah bangkitan kejang yg terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal >38º C) yg disebabkan oleh suatu proses ekstrakra- nial.
Catatan:- terjadi pd umur 6bln – 5thn à18bln
- belum pernah kejang tanpa demam
- tanpa ggn elektrolit/ metabolik berat
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu (suhu rectal
lebih dari 380C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium (di luar rongga kepala). (staff pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI).
Menurut Consensus Statement on Febrile Seizures (1980) kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau anak yang biasanya terjadi antara umur 3 bulan dan 5 tahun berhubungan dengan demam tetapi tidak pernah terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu. (http://www.mer-c.or)
B. ETIOLOGI
Hingga kini belum diketahui dengan pasti penyebab kejang demam. Demam sering disebabkan infeksi saluran pernafasan atas, radang telinga tengah, infeksi saluran cerna dan infeksi saluran kemih. Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang tinggi. Kadang kadang demam yang tidak begitu tinggi dapat menyebabkan kejang.
C. PATOFISIOLOGI
Kejang adalah manifestasi klinis khas yang berlangsung secara intermitten dapat berupa gangguan kesadaran, tingkah laku, emosi, motorik, sensorik, dan atau otonom yang disebabkan oleh lepasnya muatan listrik yang berlebihan di neuron otak. Status epileptikus adalah kejang yang terjadi lebih dari 30 menit atau kejang berulang lebih dari 30 menit tanpa disertai pemulihan kesadaran.
Mekanisme dasar terjadinya kejang adalah peningkatan aktifitas listrik yang berlebihan pada neuron-neuron dan mampu secara berurutan merangsang sel neuron lain secara bersama-sama melepaskan muatan listriknya. Hal tersebut diduga disebabkan oleh; 1] kemampuan membran sel sebagai pacemaker neuron untuk melepaskan muatan listrik yang berlebihan;
2] berkurangnya inhibisi oleh neurotransmitter asam gama amino butirat [GABA]; atau 3] meningkatnya eksitasi sinaptik oleh transmiter asam glutamat dan aspartat melalui jalur eksitasi yang berulang.  Status epileptikus terjadi oleh karena proses eksitasi yang berlebihan berlangsung terus menerus, di samping akibat ilnhibisi yang tidak sempurna.
Menurut Prichard dan Mc Greal th 1958, patogenese dari kejang demam  à Teori anoksia relatif :
Suhu ↑ à  metabolisme otak ↑(vaskularisasi otak anak umur 3 th ± 65%) à glukosa & O² otak ↓à  pompa ion Na-K terganggu à  ggn permeabilitas ddg selà  depolarisasi à kejang
D. KRITERIA KEJANG
Perbedaan antara kejang dan serangan yang menyerupai kejang
Keadaan Kejang Menyerupai kejang
Onset Tiba-tiba Mungkin gradual
Lama serangan Detik/menit Beberapa menit
Kesadaran Sering terganggu Jarang terganggu
Sianosis Sering Jarang
Gerakan ekstremitas Sinkron Asinkron
Stereotipik serangan Selalu Jarang
Lidah tergigit atau luka lain Sering Sangat jarang
Gerakan abnormal bola mata Selalu Jarang
Fleksi pasif ekstremitas Gerakan tetap ada Gerakan hilang
Dapat diprovokasi Jarang Hampir selalu
Tahanan terhadap gerakan pasif Jarang Selalu
Bingung pasca serangan Hampir selalu Tidak pernah
Iktal EEG abnormal Selalu Hampir tidak pernah
Pasca iktal EEG abnormal selalu jarang




Sumber: Smith dkk (1998).
E. KLASIFIKASI
Secara umum, Kejang Demam dapat dibagi dalam dua jenis yaitu :
-          Simple febrile seizures (Kejang Demam Sederhana/KDS) : kejang menyeluruh yang berlangsung < 15 menit dan tidak berulang dalam 24 jam.
-          Complex febrile seizures / complex partial seizures (Kejang Demam Kompleks/KDK) : kejang fokal (hanya melibatkan salah satu bagian tubuh), berlangsung > 15 menit, dan atau berulang dalam waktu singkat (selama demam berlangsung).

Minggu, 14 Agustus 2011

Perawat Indonesia: NILAI FINAL TEST PERAWATAN DEWASA I

Perawat Indonesia: NILAI FINAL TEST PERAWATAN DEWASA I: "Pemberitahuan: Nilai ujian bobot 10 tiap soal Nilai T harus melakukan perbaikan nilai Nilai C boleh melakukan perbaikan nilai, hasil perbaik..."

Jumat, 05 Agustus 2011

Disaat daku tua



Disaat daku tua

Disaat daku tua, bukanlah lagi yang dulu.
Maklumilah diriku, bersabarlah dlam menghadapiku.

Disaat daku menumpahkan kuah sayuran di bajuku, disaat daku tidak lagi mengingat cara mengikat tali sepatu,
Ingtlah saat- saat bagaimana daku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya.

Disaat daku dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang membosankanmu,
Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku.
Dimasa kecilmu, Daku harus mengulang dan mengulang terus menerus sebuah cerita yang telah saya ceritakan ribuan kali, hingga dirimu terbuai dalam mimpi

Disaat daku membutuhlanmu untuk mandi,
Janganlah menyalahkanku, Ingatlah dimasa kecilmu, bagaimana daku dengan bebagai cara membujukmu untuk mandi?

Disaat daku kebingungan manghadapi hal-hal dan teknologi modern,
Janganlah menertawaiku. Renungkanlah bagaimana daku dengan sabarnya menjawab setiap” mengapa” yang engkau ajukan disaat itu.

Disaat kedua kakiku lemah unttuk berjalan,
Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku.
Bagaimana dimasa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.



Disaat daku melupakan topic pembicaraan kita.
Biarkanlah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya. Sebenarnya, topik pembicaran bukanlah hal penting bagiku, aslakan engkau berada disisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia

Disaat engkau melihat diriku menua, Janganlah bersedih.
Maklumilah diriku, dukunlah daku, bagaimana daku terhadapmu disaat engkau milai belajar tentang kehidupan.

Dulu daku menuntunmu menapaki jalan hidup ini, kini temanilah daku hingga akhir jalkan hidupku
Berilah daku cinta kasih dan kebesaranmu, Daku akan menerimanya dengan senyuman penuh syukur. Didalam senyumku ini, tertanam kasihku yang tak tyerhingga padamu.


Walau seseorang telah melakukan beribu-ribu kebijakan, tetapai tidak melakukan bhakti kepada Ayah dan Ibu, kebijakan itu hanyalah sia-sia belaka.

MARILAH KITA BANGKITKAN BHAKTI TERHADAP ORANG TU

Minggu, 24 Juli 2011

LAPARATOMI

LAPARATOMI

Pengertian
Pembedahan perut sampai membuka selaput perut.
Ada 4 cara, yaitu;
1. Midline incision
2. Paramedian, yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah ( 2,5 cm), panjang (12,5 cm).
3. Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy.
4. Transverse lower abdomen incision, yaitu; insisi melintang di bagian bawah  4 cm di atas anterior spinal iliaka, misalnya; pada operasi appendictomy.
Indikasi
1. Trauma abdomen (tumpul atau tajam)
2. Peritonitis
3. Perdarahan saluran pencernaan.
4. Sumbatan pada usus halus dan usus besar.
5. Masa pada abdomen
Komplikasi
1. Ventilasi paru tidak adekuat
2. Gangguan kardiovaskuler : hipertensi, aritmia jantung.
3. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
4. Gangguan rasa nyaman dan kecelakaan
Latihan-latihan fisik
Latihan napas dalam, latihan batuk, menggerakan otot-otot kaki, menggerakkan otot-otot bokong, Latihan alih baring dan turun dari tempat tidur. Semuanya dilakukan hari ke 2 post operasi.
POST LAPARATOMI
Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada pasien-pasien yang telah menjalani operasi pembedahan perut.
Tujuan perawatan post laparatomi;
1. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.
2. Mempercepat penyembuhan.
3. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi.
4. Mempertahankan konsep diri pasien.
5. Mempersiapkan pasien pulang.
Komplikasi post laparatomi;
1. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.
Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 – 14 hari setelah operasi. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru, hati, dan otak.
Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi, ambulatif dini dan kaos kaki TED yang dipakai klien sebelum mencoba ambulatif.
2. Buruknya intergriats kulit sehubungan dengan luka infeksi.
Infeksi luka sering muncul pada 36 – 46 jam setelah operasi. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens, organisme; gram positif. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan.
Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik.
3. Buruknya integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi.
Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka.
Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi.
Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutup waktu pembedahan, ketegangan yang berat pada dinding abdomen sebagai akibat dari batuk dan muntah.
Proses penyembuhan luka
•Fase pertama
Berlangsung sampai hari ke 3. Batang lekosit banyak yang rusak / rapuh. Sel-sel darah baru berkembang menjadi penyembuh dimana serabut-serabut bening digunakan sebagai kerangka.
•Fase kedua
Dari hari ke 3 sampai hari ke 14. Pengisian oleh kolagen, seluruh pinggiran sel epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. Jaringan baru tumbuh dengan kuat dan kemerahan.
•Fase ketiga
Sekitar 2 sampai 10 minggu. Kolagen terus-menerus ditimbun, timbul jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali.
•Fase keempat
Fase terakhir. Penyembuhan akan menyusut dan mengkerut.
Intervensi untuk meningkatkan penyembuhan
1. Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin c.
2. Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid.
3. Pencegahan infeksi.
Pengembalian Fungsi fisik.
Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan napas dan batuk efektf, latihan mobilisasi dini.
Mempertahankan konsep diri.
Gangguan konsep diri : Body image bisa terjadi pada pasien post laparatomy karena adanya perubahan sehubungan dengan pembedahan. Intervensi perawatan terutama ditujukan pada pemberian support psikologis, ajak klien dan kerabat dekatnya berdiskusi tentang perubahan-perubahan yang terjadi dan bagaimana perasaan pasien setelah operasi.
Pengkajian
Perlengkapan yang dilakukan pada pasien post laparatomy, adalah;
1. Respiratory
•Bagaimana saluran pernapasan, jenis pernapasan, bunyi pernapasan.
2. Sirkulasi
•Tensi, nadi, respirasi, dan suhu, warna kulit, dan refill kapiler.
3. Persarafan : Tingkat kesadaran.
4. Balutan
•Apakah ada tube, drainage ?
•Apakah ada tanda-tanda infeksi?
•Bagaimana penyembuhan luka ?
5. Peralatan
•Monitor yang terpasang.
•Cairan infus atau transfusi.
6. Rasa nyaman
•Rasa sakit, mual, muntah, posisi pasien, dan fasilitas ventilasi.
7. Psikologis : Kecemasan, suasana hati setelah operasi.
Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman, abdomen tegang sehubungan dengan adanya rasa nyeri di abdomen.
2. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka operasi laparatomi.
3. Potensial kekurangan caiaran sehubungan dengan adanya demam, pemasukkan sedikit dan pengeluaran cairan yang banyak.
Kriteria Evaluasi
Hasil yang diharapkan setelah perawatan pasien post operasi, meliputi;
1. Tidak timbul nyeri luka selama penyembuhan.
2. Luka insisi normal tanpa infeksi.
3. Tidak timbul komplikasi.
4. Pola eliminasi lancar.
5. Pasien tetap dalam tingkat optimal tanpa cacat.
6. Kehilangan berat badan minimal atau tetap normal.
7. Sebelum pulang, pasien mengetahui tentang :
•Pengobatan lanjutan.
•Jenis obat yang diberikan.
•Diet.
•Batas kegiatan dan rencana kegiatan di rumah.
 
PENATALAKSANAAN PERAWATAN
Assesment
Pengkajian ini meliputi obyektif dan subyektif.
1. Data subyektif meliputi;
•Nyeri yang sangat pada daerah perut.
2. Data obyektif meliputi :
•Napas dangkal
•Tensi turun
•Nadi lebih cepat
•Abdomen tegang
•Defense muskuler positif
•Berkeringat
•Bunyi usus hilang
•Pekak hati hilang
Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman, abdomen tegang sehubungan dengan adanya rasa nyeri di abdomen.
2. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka operasi laparatomi.
3. Potensial kekurangan caiaran sehubungan dengan adanya demam, pemasukkan sedikit dan pengeluaran cairan yang banyak.
Hasil yang diharapkan
1. Pasien akan tetap merasa nyaman.
2. Pasien akan tetap mempertahankan kesterilan luka operasinya.
3. Pasien akan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.
Tindakan keperawatan (intevensi keperawatan) pre operatif :
1. Pertahankan pasien untuk bedrest sampai diagnosa benar-benar sudah ditegakkan.
2. Tidak memberikan apapun melaui mulut dan beritahukan pasien untuk tidak makan dan minum.
3. Monitoring cairan intra vena bila diberikan.
4. Mencatat intake dan output.
5. Posisi pasien seenak mungkin.
6. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat-obatan.
7. Ajarkan pasien hal-hal yang perlu dilakukan setelah operasi selesai.
8. Monitoring tanda-tanda vital.
Tindakan keperawatan post operasi:
1. Monitor kesadaran, tanda-tanda vital, CVP, intake dan output
2. Observasi dan catat sifat darai drain (warna, jumlah) drainage.
3. Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati, jangan sampai drain tercabut.
4. Perawatan luka operasi secara steril.
Evaluasi
1. Tanda-tanda peritonitis menghilang yang meliputi :
•Suhu tubuh normal
•Nada normal
•Perut tidak kembung
•Peristaltik usus normal
•Flatus positif
•Bowel movement positif
2. Pasien terbebas dari rasa sakit dan dapat melakukan aktifitas.
3. Pasien terbebas dari adanya komplikasi post operasi.
4. Pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan mengembalikan pola makan dan minum seperti biasa.
5. Luka operasi baik.

OBSTETRI

KONSEP PEMERIKSAAN OBSTETRI
Keluhan yang menyebabkan kedatangan untuk memeriksakan diri:
a. Berkaitan dengan kehamilan.
• Ingin mengetahui tentang terjadinya kehamilan. 0 Ingin menggugurkan kehamilan dengan alasan khusus.
• Terjadi penyulit hamil muda:
• Gangguan mual muntah berlebihan.
• Terjadi perdarahan.
• Sakit pada perut.
Keluhan hamil tua:
• Terjadi perdarahan.
• Mengeluarkan air ketuban.
• Gerak anak berkurang atau hiperaktif.
• Terlambat melahirkan.
• Ingin melahirkan karena perut mulai sakit.

b. Berkaitan dengan terdapat infeksi yang menyertai kehamilan:
Gangguan pada genito urinaria. Terdapat keluhan leukorea. Badan panas.
Dalam melakukan pemeriksaan kehamilan dengan urutan sebagai berikut:
• Anamnesa.
• Pemeriksaan kehamilan.
• Diagnosis kehamilan.
• Prognosis kehamilan.
• Pengobatan kehamilan.

1. Anamnesa
a. Identifikasi penderita:
- Nama, umur, pekerjaan, suami, agama, dan alamat.
- Keluhan utama yang menyebabkan datang memeriksakan dirinya. Umur untuk menetapkan risiko tinggi kehamilan bila:
• Kurang dari 19 tahun sudah hamil.
• Di atas dari 35 tahun hamil pertama.
b. Perkawinan:
- Apakah kawin/tidak kawin.
Berapa kali kawin.
Lamanya kawin dan setelah berapa tahun baru hamil.

c. Kehamilan, persalinan, dan kala nifas.
• Apakah kehamilan pertama, kedua, atau lebih.
• Apakah kehamilan ini mendapat gangguan:
• Emesis gravidarum-hiperemesis gravidarum.
• Terjadi perdarahan hamil muda.
• Atau gangguan hamil tua.

Bagaimana persalinan dan kehamilan yang lalu:
• Apakah spontan B, aterm, dan hidup serta berapa berat lahir bayi.
• Siapa dan dimana pertolongan dilakukan.
• Apakah pertolongan persalinan dengan tindakan:

Vakum-forceps ekstraksi.
- Tindakan seksio sesarea.
- Dilakukan induksi persalinan.
- Jumlah anak yang hidup dan umur anak terkecil.
- Apakah mengalami komplikasi kala nifas. Apakah terdapat keluhan pada kehamilan ini.

2. Pemeriksaan kehamilan
a. Pemeriksaan keadaan umum:
- Kesan umum:
• Keadaan gizi, anemia, dan ikterus
• Pernapasan sianosis, dispneu.
• Apakah terdapat edema.
• Berauk dan tinggi badan.
• Perubahan pignaentasi:
- Chloasma gravidarum.
- Striae alba, striae lividae, dan striae nigra.
- Hiperpigmentasi mama dan areola mama.
• Pemeriksaan umum meliputi:
• Tensi, riadi, temperatur, dan berat badan.
• Pemeriksaan pare dan jantung.
• Pemeriksaan refleks lutut.

b. Pemeriksaan khusus obstetri.
• Inspeksi abdomen:
• Tinggi fundus uteri.
• Pigmentasi dinding abdomen.
• Penampakan gerak janin.
• Palpasi menurut:
• Leopold I-IV.
• Kneble.
• Buddin.
• Ahfeld.
• Kontraksi Braxton Hicks.
• Tanda cairan bebas.
• Perkusi:
• Meteorisme.
• Tanda cairan bebas.
• Auskultasi:
• Bising usus.
• Gerak janin dalam rahim.
• Detik jantung janin.
• Aliran tali pusat, aorta abdominalis, dan peredaran darah retroplasenter.

c. Pemeriksaan dalam.: Kehamilan muda:
• Tanda Hegar.
• Tanda Chadwicks.
• Tanda Piskacek.
• Adanya kontraksi Braxton Hicks.
• Terdapat ballotement.
• Pembukaan serviks.
• Kehamilan Ma:
• Berkaitan dengan kehamilan.

Serviks:
• Perlunakan serviks.
• Pembukaan serviks.

- Ketuban:
• Apakah sudah pecah atau belum.
• Ketegangan ketuban.

Bagian terendah janin:
• Bagian apakah yang terendah dari janin.
• Penurunan bagian terendah.
• Posisi bagian terendah.

Apakah ada kedudukan rangkap.
• Apakah ada penghalang di bagian bawah yang dapat mengganggu jalannya persalinan
Perabaan forniks:
• Apakah ada bantalan forniks.
• Apakah bagian janin masih dapat didorong ke atas:
• Tentang palvimetri:

Konjugata diagonalis-konjugata vena beberapa cm.
- Perabaan linia innominata.
- Keadaan tulang sakrum dan Binding samping pelvis.

Penonjolan spina ishiadika.
Tentang sudut pubis kurang dari 90° atau lebih.
Sedapat mungkin dengan ukuran sehingga dapat diperkirakan kelancaran persalinan.

d. Pemeriksaan tambahan:
Laboratorium
• Pemeriksaan laboratorium khusus:
Tes biologis kehamilan.
- Fungsi lever, ginjal, dan hormonal.

Laboratorium berkaitan dengan STD
• VDRL-Khan
• HIV-AIDS
• Penyakit infeksi dengan kemungkinan kelainan kongenital seperti TORCH dan hepatitis B.
• Alfa fetoprotein:
- Kelainan kongenital CNS.

Pemeriksaan tambahan terhadap kehamilannya:
• Ultrasonografi
Trimester pertama:
• Kepastian kehamilan.
• Kehamilan intra atau ekstrauterin.
• Kehamilan ganda.
• Kelainan kongenital-blighted ovum.
• Kehamilan mola hidatidosa.
• Kehamilan dengan komplikasi perdarahan.
• Menentukan umur hamil.

- Trimester kedua-ketiga:
• Menentukan adanya kelainan kongenital.
• Menentukan posisi pasti kehamilan dan letak plasenta.
• Menentukan umur hamil: – Biparietal.
- Lingkaran perut dan dada.
- Panjang femur. Aktivitas janin dalam rahim.
- Ekstremitas.
- Jantung.
- Pernapasan janin. Keadaan air ketuban.
- Hidramnion-oligohidramnion.
- Kekeruhan air ketuban.
- Penuntun amniosentesis.

Tentang plasenta.
- Besar-lebar plasenta.

- Kalsifikasi plasenta.
- Perdarahan retroplasenter.

Air ketuban janin dalam rahim:
Menentukan maturitas paru.
• Kekeruhan air ketuban.
• Tes biologis Iainnya.
• Jenis kelamin janin dalam rahim.
Jumlah air ketuban.
- Amnioskopi: alat khusus amnioskop.
• Kekeruhan air ketuban.
• Identifikasi tentang asfiksia intrauterin dan jumlah air ketuban.

Sitologi cairan vagina:
- Infeksi kandida—trikomonas.
• Infeksi bakteriologis.
• Kemungkinan keganasan serviks.
3. Diagnosis kehanzilatz
Dalam menegakkan diagnosis kehamilan hams dapat menjawab pertanyaan sebagai berikut:
a. Keadaan umum kehamilan:
- Apakah kesehatan optimal untuk bumil.
- Apakah disertai anemia hamil dan jenisnya.
b. Tentang kehamilan:
- Apakah pasti hamil atau tidak.
- Apakah primigravida/multigravida.
- Apakah grandemultigravida.
- Perkiraan umur hamil dan tanggal persalinan.
- Apakah tergolong hamil dengan risiko rendah, meragukan, atau tergolong risiko tinggi.
- Apakah hamil ganda, tunggal, intrauterin, atau ekstrauterin.
- Apakah kehamilannya disertai penyakit ibu atau terjadi komplikasi kehamilan.

Tentang janin:
- Apakah tunggal, ganda, intrauterin, atau ekstrauterin.
- Apakah janin hidup sehat atau terdapat kelainan kongcnital.
- Apakah kehamilan prematuritas, aterm, atau lewat waktu.
- Tentang letak dan kedudukan janin dalam rahim.
- Pertumbuhan janin: IUGR, BBRL, atau janin besar.

d. Tentang keadaan panggul:
• Normal untuk multipara, bila persalinan spontan aterm dan hidup. Normal untuk primigravida bila:
• Kepala janin masuk PAP pada minggu ke-36.
• Perkiraan persalinan berdasarkan palvimetri dapat berjalan:
- Normal spontan pervaginam.
- Kemungkinan dengan tindakan vaginal atau langsung seksio
sesarea.
• Apakah pemeriksaan pasien baru atau kelanjutan ANC.

e. Membuat diferensial diagnosis tanda kehamilan pasti dan tidak pasti:
• Tanda pasti kehamilan:
• Merasakan gerak janin dalam rahim.
• Mendengar bunyi jantung janin.
• Melihat kerangka janin dengan rontgen atau USG.
• Teraba bagian janin dalam rahim.
• Tanda tidak pasti kehamilan.
• Pembesaran rahim.
• Perubahan serviks.
• Terasa gerakan janin.
• Gejala subjektif:
- Amenore.
- Mual-muntah.
Merasa gerak janin dalam rahim.
- Sering kencing.
Perubahan mama menuju perubahan hamil.

4. Prognosis kehamilan
Kesimpulan akhir kehamilan dapat digolongkan ke dalam:
• Kehamilan risiko rendah dapat bersalin setempat.
• Kehamilan risiko meragukan dan risiko tinggi bersalin di rumah sakit dengan fasilitas sehingga tercapai well born baby dan well health mother.

5. Manajemen kehamilan dan persalinan
a. Mengupayakan pengobatan dini penyakit yang menyertai hamil sehingga tidak menimbulkan komplikasi lanjut.
b. Mencegah kemungkinan komplikasi hamil sehingga tidak berlanjut, terutama pre-eklampsia dan eklampsia.
c. Melakukan preventif persalinan sehingga komplikasi dapat ditiadakan atau diatasi dengan segera.
d. Manajemen: pseodosiesis.
Aspek psikologis dan pengobatan untuk induksi menstruasi.

Sabtu, 23 Juli 2011

ASKEP SECTIO CAESARIA


AKADEMI KEPERAWATAN PUTRA PERTIWI
A. pengertian
Sectio caesaria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahim.
(Arif Mansjoer, 2002)
Sectio caesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat syatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina.
(Rustam Mokhtar, Edisi 2.1998)
Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat ,rhim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram.
(Sarwono Prawirohartjo,2000)
Letak Sungsang adalah janin yang letaknya memanjang (membujur) dalam rahim, kepala berada di fundus dan bokong di bawah.
(Rustam Mokhtar,Edisi 2.1998)

2.JENIS JENIS SECTIO CAESARIA

1.Sectio caesaria transperitonealis profunda
Sectio caesaria transperitonealis propunda dengan insisi di segmen bawah uterus.keunggulan pembedahan ini adalah:
a.Pendarahan luka insisi tidak seberapa banyak.
b.Bahaya peritonitis tidak besar.
c.Perut uterus umumnya kuat sehingga bahaya ruptur uteri dikemudian hari tidak besar karena pada nifas segmen bawah uterus tidak seberapa banyak mengalami kontraksi seperti korpus uteri sehingga luka dapat sembuh lebih sempurna.





2.Sectio ceacaria klasik atau section ceacaria komporal
Pada cectio ceacaria klasik ini di buat kepada korpus uteri,pembedahan ini yang agak mudah dilakukan,hanya di selenggarakan apabila ada halangan untuk melakukan section ceacaria transperitonealis profunda.

3. Sectio ceacaria ekstra peritoneal
Section ceacaria eksrta peritoneal dahulu di lakukan untuk mengurangi bahaya injeksi perporal akan tetapi dengan kemajuan pengobatan terhadap injeksi pembedahan ini sekarang tidak banyak lagi di lakukan.

3.INDIKASI-INDIKASI
a.Indikasi Ibu dengan s c :
Plasenta previa sentralis (Posterior)dan totalis, Panggul sempit, Disproposi cepalo pelvis (ketidak sesuaian antara kepala dan tanggul), Partus lama, Ruptur uteri mengencang, Partus tidak maju, Distosia serviks, Pre eklamsia dan hiprtensi,Disfungsi uterus,Distosia jaringan lunak .
b.Indikasi Janin dengan s c :
1. Letak lintang
2. Letak bokong
3. Presentasi rangap bila reposisi tidak terhenti
4. Presentasi dahi dan muka(letak depleksi)bila reposisi dan cara-cara lain tidak berhasil
5. Gemili menurut easmant,s c di anjurkan
a. 1.Bila janin pertama letak lintang/presentasi bahu
b. 2.Bila terjadi interior
c. 3.Distosia oleh karena tumor
d. 4.Gawat janin
6. Kelainan Uterus :
a. Uterus arkuatus
b. Uterus septus
c. Uterus duplekus
6. Terdapat tumor dipelvisminor yang menggangu masuk kepala janin kepintu atas panggul
4.HAl-HAl YANG PERLU DI PERHATIKAN DALAM SC
1.Sectio Ceaceria Efektif
Sekcio ceacaria ini di rencanakan lebih dahulu di ketahui bahwa kehamilan harus diselesaikan dengan pembedahan keuntungannya ialah bahwa waktu pembedahan dapat ditentukan oleh dokter yang akan menolongnya dan bahwa persiapan dapat dilakukan dengan baik kerugiannya oleh karena persalinan belum mulai,segmen bawah uterus belum berbentuk dengan baik sehingga menyulitkan pembedahan dan lebih mudah terjadi abonia uteri dengan pendarahan karena uterus mulai dengan kontraksinya.
2.Anastesia
Anastesia umum mempunyai pengaruh depresif pada pusat pernapasan,sehingga kadang-kadang bayi lahir dalam keadaan apnea yang tidak dapat di atasi dengan mudah.selain itu ada pengaruh terhadap tonus uterus,sehingga kadang-kadang timbul pedarahan post partum karena atonia uteri,akan tetapi bahaya tebesar ialah apabila di beri anastesi umum sedangkan lambung penderita tidak kosong pada wanita tidak sadar karena anastesi ada kemungkinan isi lambung masuk kedalam.
3.Transfusi Darah
Perdarahan pada section caesaria lenih banyak daripada persalinan pervaginam.perdarahan ini dapat disebabkan oleh insisi pada uterus ketika pelepasan plasenta mungkin juga karena terjadinya atonia uteri post partum, berhubungan dengan itu,pada tiap-tiap section caesaria perlu diadakan persediaan darah.
4.Pemberian Antibiotic
Walaupun pemberian antibiotic sesudah sectio caesaria efektif dapat dipersoalkan,namun pada persediaanya dianjurkan.


5.KOMPLIKASI
a.Ibu
1. Injeksi purporal
2. Perdarahan
3. Luka dinding kandung kemih
4. Embolisme paru
5. Rupture uteri
b.Bayi
Kematian perinatal

6.PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Jumlah darah lengkap,hemoglobin atau hematokrit.mengkaji perubahan
dari kadar pra operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada
pembedahan
b. Urinalisis, kultur urin, darah, vagina dan lokhea, pemeriksaan tambahan
didasarkan pada kebutuhan individual.

7. PERAWATAN
Perawatan post partum dimuali sebenarnya sejak kala uri dengan menghindarkan adanya kemungkinan perdarahan post partum infeksa. Bila laserasi jalan lahir atau luka bekas episiotomi lakukan perawatan luka dengan sebaik-baiknya.
Diit yang diberikan harus bermutu tinggidengan cukup kalori mengandung cukup protein, cairan serta banyak buah-buahan karena wanita tersebut mengalami hemokonsentrasi miksi atau berkemih harus secepatnya dilakukan sendiri. Defeksi atau BAB harus ada dalam 3 hari post partum. Bila wanita itu sangat mengeluh tentang adanya mulas dapat diberi analgesic atau sedatif supaya dapat beristirahat atau tidur.


B.Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Sirkulasi : Kehilangan darah selama prosedur kira-kira 400 – 500 cc
b. Makanan/Cairan :Abdomen lunak dengan tidak ada distensi pada awal.
c.Neurosensori :Kerusakan gerakan dan sensasi dibawah tingkat anestisi spinal epidurald.Nyeri/Ketidaknyamanan: Mungkin mengeluh ketidaknyamanan dari berbagai sumber misalnya trauma bedah atau insisi, nyeri penyerta, distensi kandung kemih atau abdomen, efek-efek anestese, mulut mungkin kering.
e.Pernafasan :Bunyi paru jelas dan vasikuler.
f. Keamanan :Balutan abdomen dapat tampak sedikit noda atau kering dan utuh, bila digunakan, paten, dan sisi bebas eritema bengkak dan nyeri tekan.
g. Seksualitas : Fundus kontraksi kuat dan terletak di umbilicus. Aliran lokhea sedang dan bebas bekuan berlebihan atau banyak

2.Diagnosa Keperawatan
Menurut doengeos E.marllyn ( 2001 ) hal 415, adalah sebagai berikut:
a. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan perkembangan transisi atau peningkatan anggota keluarga,krisis situasi.
b. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan,efek-efek anastesi,distensi kandungan kemih atau abdomen
c. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi acaman pada konsep diri transmisi atau kontak interpersonal, kebutuhan tidak terpenuhi.
d. Harga diri rendah berhubungan dengan merasa gagal dalam peristiwa kehidupan.
e. Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan fungsi biokimia atau rugulasi, efek-efek anastasi,trombo emboli,trauma jaringan.
f. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan,penurunan hemoglobin,prosedur invasive dan atau peningkayan pemanjanan lingkungan,pecah ketuban lama dan mal nutrisi
g. Gangguan pola eliminasi: konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot, dehidrasi, diare persalinan, kurang asupan.
h. Kurang pengetahuan mengenai perubahan fisiologis, priode pemulihan, perawatan diri dan kebutuhan perawatan bayi berhubungan dengan kurang informasi
i. Gangguan pemenuhan kebutuhan (personal Hygiene) berhubungan dengan kelemahan fisik
j. Perubahanan eliminasi urin berhubungan dengan efek-efek hormonal.

3. Rencana tindakan
Tahap perencanaan merupakan tahap penentuan tujuan dan criteria hasil yang diharapkan dan tindakan yang direncanakan. Intervensi dari diagnose keperawatan diatas yaitu sebagai berikut :
DX 1 : Perubahan proses keluarga berhubungan dengan perkembangan transisi atau peningkatan anggota keluarga, krisis situasi.
Tujuan : perubahan proses keluarga tidak terjadi.
Kriteria hasil :klien dapat menggendong bayi bila kondisi ibu dan
Neonates memungkinkan serta mampu
mendemontrasikan prilaku kedekatan dan ikatan yang
dekat klien mulai secara aktif mengikuti tugas
perawatan bayi baru lahir dengan tepat
Intervensi :
a. Anjurkan klien menggendong, menyentuh dan memeriksa bayi, bantu sesuai kebutuhan.
b. Berikan kesempatan ayah atau pasangan untuk menyentuh dan menggendong bayi dan membantu dalam perawatan bayi.
c. Observasi dan catat interaksi keluarga bayi.
d. Perhatikan pengungkapan atau perilaku yang menunjukkan kekecewaan/kurang minat/kedekatan
e. Berikan kesempatan pada orang tua untuk mengungkapakan perasaan yang negative tentang diri mereka dan bayi
f. Berikan informasi sesuai kebutuhan tentang keamanan dan kondisi bayi
g. Anjurkan dan bantu dalam menyusui
h. Diskusikan kebutuhan,kemajuan dan sifat interaksi yang lazim dari ikatan.


DX 2: Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan
Tujuan : Nyeri tidak terjadi.
Kreteria Hasil : klien mampu mengidentifikasikan dan menggunakan
rencana untuk mengatasi nyeri atau ketidaknyamanan
serta mengungkapkan berkurangnya nyeri. Klien
tampak rileks, mampu tidur atau istirahat dengan
tepat.
Intervensi :
a. Tentukan karakteristik dan lokasi ketidaknyamanan.
b. Berikan informasi dan petunjuk antipasi mengenai penyebab ketidaknyamanan
c. Evaluasi tekanan darah dan nadi, perhatikan perubahan perilaku
d. Ubah posisis klien, kurangi rangsangan berbahaya dan berikan gosakan punggung.
e. Lakukan latihan napas dalam.
f. Anjurkan penggunaan recumen lateral/kiri.
g. Anjurkan tekhnik distraksi dan relaksasi.
h. Perhatikan adanya nyeri tekan uterus ,perhatikan infuse oksitoksin pasca operasi.
i. Anjurkan mobilisasi dini dan menghindari makanan yang mengandung gas.
j. Palpasi kandung kemih, perhatika adanya rasa penuh
k. Berikan analgesic sesuai yang diresepkan oleh dokter.

DX 3: Ansietas berhubungan dengan ancaman pada konsep diri.
Tujuan : Ansietas tidak terjadi
Kriteria hasil :klien mampu mengungkapkan kesadaran akan ansietas
mampu mengidentifikasi cara untuk menurukan atau
menghilangkan ansitas. Klien melaporkan bahwa
ansietas sudah menurun ketempat yang dapat
diatasi,klien kelihatan rileks dapat tidur istirahat
dengan benar.



Intervensi :
a. Anjurkan klien untuk mengungkapkan perasaannya
b. Bantu klien/pasang dalam mengidentifikasikan mekanisme koping yang lazim dan berkembang strategi koping jika dibutuhkan .
c. Berikan informasi yang akurat tentang keadaan klien/bayi
d. Anjurkan klien untuk sering kontak dengan bayi sesegera mngkin.

DX 4. harga diri rendah situasional berhubungan dengan merasa gagal dalam peristiwa kehidupan.
Tujuan : harga diri rendah situasional tidak terjadi.
Kriteria Hsail : klien mampu mendiskusikan masalah berhubungan
dengan peran dalam dan persepsi terhadap
pengalaman kelahiran dan klien atau pasangan dan
mampu mengekspresikan harapan dirir yang positive.
Intervensi :
a. Tentukan respon emosional klien atau pansangan terhadapn kelahirsn SC
b. Tinjau ulang partipasi klien/pasangan dan peran dalam pengalaman kelahiran
c. Beritahukan klien tentang hampir samanya antara kelahiran
d. Sc dan kelahiran melalui vagina

DX5:Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan fungsi biokimia/ regulasi, trauma jaringan.
Tujuan :Resiko tinggi terhadap cidera tidak terjadi.
Kriteria hasil :klien mampu mendemontrasikan perilaku untuk
menurunkan factor resiko dan perlindungan diri,dan
klien bebas dari komplikasi
Intervensi :
a. Observasi tanda-tanda vital
b. Insfeksi balutan terhadp pendarahan yang berlebihan
c. Perhatikan kateter dan jumlah aliran-aliran lochhea dan konsistensi fundus
d. Pantau masukan cairan dan pengeluaran urin
e. Ajarkan klien untuk ambulasi dni.
f. Anjurkan klien untuk merubah selalu posisi tubuh (dudk, berbaring dalam posisi datar)
g. Inspeksi daerah luka operasi (apakah sudah ada perubahan penyembuhan).
h. Inspeksi daerah ekstremitas bawah terhadap tanda tromboplebitis.
i. Anjurkan latihan kaki/pergelangan kaki dan ambulasi dini.
j. Berikan cairan infus sesuai dengan program.
k. Periksa Hb, Ht pasca operasi bandingkan dengan kadar pra operasi.
l. Berikan kaos kaki penyokong ata balutan elastis untuk kaki bila resiko atau gejala plebitis ada.

DX 6:Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan, penurunan Hb,
prosedur infasif dan atau peningkatan pemajanan lingkungan, pemecahan
ketuban lama, malnutrisi.
Tujuan : resiko tinggi infeksi tidak terjadi.
kriteria hasil : klien mampu mendemonstrasikan teknik-teknik untuk
menurunkan resiko dan meningkatkan penyembuhan,
mampu menunjukkan luka bekas dan drainase lunak /
tidak nyeri tekan, dengan aliran dan karakter lochea
norml dan klien bebas dari infeksi, tidak demam.
Intervensi :
a. Anjurkan dan gunakan teknik septic dan anti septic
b. Perhatikan factor yang menyebabkan terjadinya infeksi
c. Inspeksi balutan abdominal terhadap eksudat atau rembesan
d. Berikan luka dan ganti balutan luka bila basah
e. Inspeksi insisisi terhadap proses penyembuhan
f. Dorong klien untuk mandi air hangat setiap hari tetapi tidak mengenai luka operasi
g. Observasi suhu,nadi dan jumble sel darah putih
h. Anjurkan istirahat cukup
i. Berikan antibiotic khusus untuk proses infeksi yang diresepkan oleh dokter.






DX 7:Gangguan pola eliminasi: konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot
Tujuan : konstipasi tidak terjadi
kriteria hasil :klien mampu mendemonstrasikan kembalinya
mobilitas usus dibutuhkan oleh bising usus dan
keluarnya flatus dan klien mendapatkan kembali pola
eliminasi biasanya atau optimal.
Intervensi :
a. Auskultasi bising usus
b. Palpasi abdomen,perhatikan distensi atau ketidak nyamanan
c. Anjurkan makanan yang berserat tinggi
d. Anjurkan untuk ambulasi dini
e. Anjurkan cairan oral yang adekuat (missal : 6-8 gelas/hari
f. Identifikasi aktivitas klien yang dapat merangsang kerja usus
g. Berikan pelunak feses sesuai dengan instruksi dokter

DX 8: kurang pengetahuan mengenai perubahan fisiologi, periode pemulihan, perawatan diri dan kebutuhan perawatan bayi berhubungan dengan kurang nya informasi
Tujuan :ibu mengerti tentang perawatan bayi
kriteria hasil :klien mampu mengungkapkan pemahan tentang
perubahan, kebutuhn individu,hasil yang diharapkan,
serta dapat melakkukan aktivitas – aktivitas/prosedur
yang perlu dengan benar untuk penjelasan dan
tindakan.
Intervensi :
a. Kaji motivasi klien untuk belajar
b. Berikan rencana penyuluhan tertulis dengan menggunakan format yang distandarisasi atau ceklis
c. Kaji keadaan fisik klien
d. Perhatikan status psikologis danb respon terhadap seksiosesaria serat peran menjadi ibu
e. Berikan informasi tentang perubahan fisiologis dan psikologis yang berkaitan dengan kelahiran seksiosesaria
f. Kaji ulang perawatan diri ( perawatan parineal,perawatan luka,heygine dan berkemih ).
g. Kaji tanda atau gejala yang perlu perhatian khusus ( demam, disuria, peningkatan jumble lochea )
h. Ajarkan cara perawatan bayi.
i. Diskusikan rencana-rencana piñatalaksanaan dirumah ( membantu pekerjaan rumah,susunan fisik rumah, pengaturan tidur bayi
j. Berikan informasi tentang kb beserta keuntungan dan kerugiannya.

DX 9 : gangguan pemenuhan kebutuhan (personal Hygiene) berhubungan dengan kelemahan fisik
Tujuan : pemenuhan kebutuhan terpenuhi
Kriteria hasil :
 Klien mampu memenuhi personal hygine secara mandiri
 Badan tampak bersih tidak lengket
 Klien terlihat rapi, rambut bersih dan tidak berminyak
 Vulva bersih
Intervensi :
1. Monitor tanda-tanda vital tiap 8 jam
2. Kaji kemempuan klien dalam perawatan diri
3. Bantu klien dalam perawatan diri ( mandi, mencuci rambut, vulva hygiene) jika diperlukan
4. Monitor tanda-tanda vital tiap 8 jam
5. Kaji kemampuan klien dalam perawatan diri

DX 10 :Perubahan eliminasi : urin berhubungan dengan trauma,efek hormonal
dan efek anastasi
Tujuan : Gangguan eliminasi urin tidak terjadi
Kriteria hasil : klien mendapatkan pola berkemih yang biasa/optimal
setelah pengangkatan kateter, klien mengosongkan
kandung kemih pada setiap berkemih.


Intervensi :
a. Perhatikan dan catat jumlah,warna dan konsistensi drainase urin.
b. Test urin terhadap albumin dan aseton.
c. Berikan cairan peroral (6-8 gelas/hari )
d. Palpasi kandung kemih,pantau tinggi pundus,lokasi dan jumlah aliran lochea.
e. Perhatikan tanda dan gejala ISK ( warna keruh,bau busuk,sensasi terbakar setelah pengangkatan kateter
f. Gunakan metode untuk memudahkan pengangkatan kateter setelah berkemih( menyiramkan air hangat keperinium )
g. Perhatikan infus intravena selama 24 jam setelah pembedahan sesuai indikasi
h. Lepaskan kateter sesuai indikasi ( biasanya 6-12 jam post partum ).

4. Pelaksaaan
Pelaksanaan bertujuan untuk mengatasi diagnosa dan masalah keperawatan, kolaborasi dan membantu dalam pencapaian tujuan yang ditetapkan dan mempasilitas koping, tahapan tindakan keperawatan ada 3 antara lain :


1. Persiapan : Perawat menyiapkan segala sesuatu yang perlu dalam tindakan
keperawatan, yaitu mengulang tindakan keperawatan yang diidentifikasikan pada tahap intervensi,menganalisa pengetahuan dan ketermpilan yang diperlukan dalam mengetahui komplikasi dari tindakan yang mungkin muncul, menentukan kelengkapan dan menentukan lingkungan yang kondusif. Mengidentifikasi aspek hukum dan kode etik terhadap resiko dari kesalahan tindakan.
2. Intervensi : Pelaksanaan tindakan keperawatan yang bertjuan untuk
memenuhi kebutuhan fisik dan emosional, adapun sifat tindakan keperawatan yaitu independen, interindependen,dan dependen.
3. Dokumentasi: Mendokumentasikan suatu proses keperawatan secara lengkap
dan akurat.

5.Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan yang bertujuan melihat sejauh mana diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan dan mengevaluasi kesalahan yang terjadi selama pengkajian, analisa, intervensi, mengimplementasi keperawatan.
a. Formatif
Evaluasi setelah rencana keperawata dilakukan untuk membantu keefektifan tindakan yang dilakukan secara berkelanjutan hingga tujuan tercapai.
b.Sumatif
Evaluasi yang diperlukan pada akhir tindakan keperawatan secara obyektif,
fleksibel dan efisien.

ASKEP SECTIO CAESARIA

ASKEP SC

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PRE dan POST OP SECSIO CESAREA

A. PENGERTIAN

Operasi Caesar atau sering disebut dengan seksio sesarea adalah melahirkan janin melalui sayatan dinding perut (abdomen) dan dinding rahim (uterus).

Seksio sesaria adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta bera janin diatas 500gram. ( Wiknjosastro,2005).

Seksio sesaria adalah suatu tidakan untuk melahirkan bayi dengan berat badan diatas 500gram , melalui sayatan pada dinding uterus yang masih utuh. (siaksoft.net).

Jenis–jenis seksio sesare :

1. Seksio sesarea klasik (korporal)

Dengan sayatan memanjang pada korpus uteri kira – kira sepanjang 10 cm.

2. Seksio sesarea ismika (profunda)

Dengan sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim kira-kira 10 cm.

B. ETIOLOGI

1. Indikasi yang berasal dari ibu ( etiologi )

Yaitu pada primigravida dengan kelainan letak, primi para tua disertai kelainan letak ada, disproporsi sefalo pelvik (disproporsi janin / panggul) ada, sejarah kehamilan dan persalinan yang buruk, terdapat kesempitan panggul, Plasenta previa terutama pada primigravida, solutsio plasenta tingkat I – II, komplikasi kehamilan yaitu preeklampsia-eklampsia, atas permintaan, kehamilan yang disertai penyakit ( jantung, DM ), gangguan perjalanan persalinan ( kista ovarium, mioma uteri dan sebagainya ).

2. Indikasi yang berasal dari janin

Fetal distress / gawat janin, mal presentasi dan mal posisi kedudukan janin, prolapsus tali pusat dengan pembukaan kecil, kegagalan persalinan vakum atau forseps ekstraksi.

C. PATOFISIOLOGI

terjadi Kelainan Pada Ibu dan Kelainan Pada Janin menyebabkan Persalinan Normal Tidak Memungkunkan akhirnya harus dilakukan SC

D. KOMPLIKASI

1. Infeksipuerperal
Komplikasi ini bisa bersifat ringan, seperti kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa nifas, bersifat berat seperti peritonitis, sepsis dsb.

2. Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang-cabang arteri ikut terbuka, atau karena atonia uteri.

3. Komplikasi-komplikasi lain seperti luka kandung kencing, embolisme paru-paru, dan sebagainya sangat jarang terjadi.

4. Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak, ialah kurang kuatnya parut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri. Kemungkinan peristiwa ini lebih banyak ditemukan sesudah seksio sesarea klasik.

E. PENATALAKSANAAN

1. Perawatan Pre Operasi Seksio Sesarea

a. Persiapan Kamar Operasi

· Kamar operasi telah dibersihkan dan siap untuk dipakai

· Peralatan dan obat-obatan telah siap semua termasuk kain operasi

b. Persiapan Pasien

· Pasien telah dijelaskan tentang prosedur operasi.

· Informed consent telah ditanda tangani oleh pihak keluarga pasien

· Perawat member support kepada pasien.

· Daerah yang akan di insisi telah dibersihkan (rambut pubis di cukur dan sekitar abdomen telah dibersihkan dengan antiseptic).

· Pemeriksaan tanda-tanda vital dan pengkajian untuk mengetahui penyakit yang pernah di derita oleh pasien.

· Pemeriksaan laboratorium (darah, urine).

· Pemeriksaan USG.

· Pasien puasa selama 6 jam sebelum dilakukan operasi.

2. Perawatan Post Operasi Seksio Sesarea.

a. Analgesia

Wanita dengan ukuran tubuh rata-rata dapat disuntik 75 mg Meperidin (intra muskuler) setiap 3 jam sekali, bila diperlukan untuk mengatasi rasa sakit atau dapat disuntikan dengan cara serupa 10 mg morfin.

- Wanita dengan ukuran tubuh kecil, dosis Meperidin yang diberikan adalah 50 mg.

- Wanita dengan ukuran besar, dosis yang lebih tepat adalah 100 mg Meperidin.

- Obat-obatan antiemetik, misalnya protasin 25 mg biasanya diberikan bersama-sama dengan pemberian preparat narkotik.

b. Tanda-tanda Vital

Tanda-tanda vital harus diperiksa 4 jam sekali, perhatikan tekanan darah, nadi jumlah urine serta jumlah darah yang hilang dan keadaan fundus harus diperiksa.

c. Terapi cairan dan Diet

Untuk pedoman umum, pemberian 3 liter larutan RL, terbukti sudah cukup selama pembedahan dan dalam 24 jam pertama berikutnya, meskipun demikian, jika output urine jauh di bawah 30 ml / jam, pasien harus segera di evaluasi kembali paling lambat pada hari kedua.

d. Vesika Urinarius dan Usus

Kateter dapat dilepaskan setelah 12 jam, post operasi atau pada keesokan paginya setelah operasi. Biasanya bising usus belum terdengar pada hari pertama setelah pembedahan, pada hari kedua bising usus masih lemah, dan usus baru aktif kembali pada hari ketiga.

e. Ambulasi

Pada hari pertama setelah pembedahan, pasien dengan bantuan perawatan dapat bangun dari tempat tidur sebentar, sekurang-kurang 2 kali pada hari kedua pasien dapat berjalan dengan pertolongan.

f. Perawatan Luka

Luka insisi di inspeksi setiap hari, sehingga pembalut luka yang alternatif ringan tanpa banyak plester sangat menguntungkan, secara normal jahitan kulit dapat diangkat setelah hari ke empat setelah pembedahan. Paling lambat hari ke tiga post partum, pasien dapat mandi tanpa membahayakan luka insisi.

g. Laboratorium

Secara rutin hematokrit diukur pada pagi setelah operasi hematokrit tersebut harus segera di cek kembali bila terdapat kehilangan darah yang tidak biasa atau keadaan lain yang menunjukkan hipovolemia.

h. Perawatan Payudara

Pemberian ASI dapat dimulai pada hari post operasi jika ibu memutuskan tidak menyusui, pemasangan pembalut payudara yang mengencangkan payudara tanpa banyak menimbulkan kompesi, biasanya mengurangi rasa nyeri.

i. Memulangkan Pasien Dari Rumah Sakit

Seorang pasien yang baru melahirkan mungkin lebih aman bila diperbolehkan pulang dari rumah sakit pada hari ke empat dan ke lima post operasi, aktivitas ibu seminggunya harus dibatasi hanya untuk perawatan bayinya dengan bantuan orang lain.

F. ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN

a. Identitas Pasien

Meliputi nama, umur, pendidikan, suku bangsa, pekerjaan, agam, alamat, status perkawinan, ruang rawat, nomor medical record, diagnosa medik, yang mengirim, cara masuk, alasan masuk, keadaan umum tanda vital.

b. Data Riwayat Kesehatan

- Riwayat kesehatan sekarang.

Meliputi keluhan atau yang berhubungan dengan gangguan atau penyakit dirasakan saat ini dan keluhan yang dirasakan setelah pasien operasi.

- Riwayat Kesehatan Dahulu

Meliputi penyakit yang lain yang dapat mempengaruhi penyakit sekarang, Maksudnya apakah pasien pernah mengalami penyakit yang sama (Plasenta previa).

- Riwayat Kesehatan Keluarga

Meliputi penyakit yang diderita pasien dan apakah keluarga pasien ada juga mempunyai riwayat persalinan plasenta previa.

c. Data Sosial Ekonomi

Penyakit ini dapat terjadi pada siapa saja, akan tetapi kemungkinan dapat lebih sering terjadi pada penderita malnutrisi dengan sosial ekonomi rendah.

d. Data Psikologis

- Pasien biasanya dalam keadaan labil.

- Pasien biasanya cemas akan keadaan seksualitasnya.

- Harga diri pasien terganggu

-

e. Pemeriksaan Penunjang

- USG, untuk menetukan letak impiantasi plasenta.

- Pemeriksaan hemoglobin

- Pemeriksaan Hema tokrit

.

2. DIAGNOSA

a. Transisi Perubahan proses keluarga berhubungan dengan perkembangan atau adanya peningkatan anggota keluarga (Doengoes,2001).

b. Gangguan nyaman : nyeri akut berhubungan dengan trauma pembedahan (Doengoes,2001).

c. Ansietas berhubungan dengan situasi, ancaman pada konsep diri, transmisi / kontak interpersonal, kebutuhan tidak terpenuhi (Doengoes,2001).

d. Harga diri rendah berhubungan dengan merasa gagal dalam peristiwa kehidupan (Doengoes,2001).

e. Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan fungsi biokimia atau regulasi (Doengoes,2001)

f. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan / kulit rusak (Doengoes,2001)

g. Konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot (Doengoes,2001).

h. Kurang pengetahuan mengenai perawatan diri dan bayi berhubungan dengan kurang pemajanan stsu mengingati kesalahan interpretasi , tidak mengenal sumber-sumber (Doengoes,2001)

i. Perubahan eliminasi urin berhubungan dengan trauma atau diversi mekanisme efek-efek hormonal/anastesi (Doengoes,2001)

j. Kurang perawatan diri berhubungan dengan efek-efek anestesi, penurunan kekuatan dan ketahanan, ketidatnyamana fisik (Doengoes,2001)

3. INTERVENSI

a. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan perkembangan transisi / peningkatan anggota keluarga.

- Tujuan : dapat menerima perubahan dalam keluarga dengan anggotanya baru.

- Kriteria hasil :

a) Menggendong bayi, bila kondisi memungkinkan

b) Mendemontrasikan prilaku kedekatan dan ikatan yang tepat

c) Mulai secara aktif mengikuti perawatan bayi baru lahir dengan cepat.

- Intervensi :

a) Anjurkan pasien untuk menggendong, menyetuh dan memeriksa bayi, tergantung pada kondisi pasien dan bayi, bantu sesuai kebutuhan.

Rasional : Jam pertama setelah kelahiran memberikan kesempatan unik untuk ikatan keluarga terjadi karena ibu dan bayi secara emosional dan menerima isyarat satu sama lain, yang memulai kedekatan dan proses pengenalan.

b) Berikan kesempatan untuk ayah / pasangan untuk menyentuh dan menggendong bayi dan Bantu dalam perawatan bayi sesuai kemungkinan situasi.

Rasional : membantu memudahkan ikatan / kedekatan diantara ayah dan bayi. Memberikan kesempatan untuk ibu memvalidasi realitas situasi dan bayi baru lahir.

c) Observasi dan catat interaksi keluarga bayi, perhatikan perilaku yang dianggap menggandakan dan kedekatan dalam budaya tertentu.

Rasional : pada kontak pertama dengan bayi, ibu menunjukkan pola progresif dari perilaku dengan cara menggunakan ujung jari.

d) Diskusikan kebutuhan kemajuan dan sifat interaksi yang lazim dari ikatan. Perhatikan kenormalan dari variasi respon dari satu waktu ke waktu.

Rasional : membantu pasien dan pasangan memahami makna pentingnya proses dan memberikan keyakinan bahwa perbedaan diperkirakan.

e) Sambut keluarga dan sibling untuk kunjungan sifat segera bila kondisi ibu atau bayi memungkinkan.

Rasional : meningkatkan kesatuan keluarga dan membantu sibling memulai proses adaptasi positif terhadap peran baru dan memasukkan anggota baru kedalam struktur keluarga.

f) Berikan informasi, sesuai kebutuhan, keamanan dan kondisi bayi. Dukungan pasangan sesuai kebutuhan.

Rasional : membantu pasangan untuk memproses dan mengevaluasi informasi yang diperlukan, khususnya bila periode pengenalan awal telah terlambat.

g) Jawab pertanyaan pasien mengenai protokol, perawatan selama periode pasca kelahiran.

Rasional : informasi menghilangkan ansietas yang dapat menggangu ikatan atau mengakibatkan absorpsi dari pada perhatian terhadap bayi baru lahir.

b. Ketidaknyamanan : nyeri, akut berhubungan dengan trauma pembedahan.

- Tujuan : ketidaknyamanan ; nyeri berkurang atau hilang.

- Kriteria hasil :

a) Mengungkapkan kekurangan rasa nyeri.

b) Tampak rileks mampu tidur.

- Intervensi :

a) Tentukan lokasi dan karakteristik ketidaknyamanan perhatikan isyarat verbal dan non verbal seperti meringis.

Rasional : pasien mungkin tidak secara verbal melaporkan nyeri dan ketidaknyamanan secara langsung. Membedakan karakteristik khusus dari nyeri membantu membedakan nyeri paska operasi dari terjadinya komplikasi.

b) Berikan informasi dan petunjuk antisipasi mengenai penyebab ketidaknyamanan dan intervensi yang tepat.

Rasional : meningkatkan pemecahan masalah, membantu mengurangi nyeri berkenaan dengan ansietas.

c) Evaluasi tekanan darah dan nadi ; perhatikan perubahan prilaku.

Rasional : pada banyak pasien, nyeri dapat menyebabkan gelisah, serta tekanan darah dan nadi meningkat. Analgesia dapat menurunkan tekanan darah.

d) Perhatikan nyeri tekan uterus dan adanya atau karakteristik nyeri.

Rasional : selama 12 jam pertama paska partum, kontraksi uterus kuat dan teratur dan ini berlanjut 2 – 3 hari berikutnya, meskipun frekuensi dan intensitasnya dikurangi faktor-faktor yang memperberat nyeri penyerta meliputi multipara, overdistersi uterus.

e) Ubah posisi pasien, kurangi rangsangan berbahaya dan berikan gosokan punggung dan gunakan teknik pernafasan dan relaksasi dan distraksi.

Rasional : merilekskan otot dan mengalihkan perhatian dari sensasi nyeri. Meningkatkan kenyamanan dan menurunkan distraksi tidak menyenangkan, meningkatkan rasa sejahtera.

f) Lakukan nafas dalam dengan menggunakan prosedur- prosedur pembebasan dengan tepat 30 menit setelah pemberian analgesik.

Rasional : nafas dalam meningkatkan upaya pernapasan. Pembebasan menurunkan regangan dan tegangan area insisi dan mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan berkenaan dengan gerakan otot abdomen.

g) Anjurkan ambulasi dini. Anjurkan menghindari makanan atau cairan berbentuk gas; misal : kacang-kacangan, kol, minuman karbonat.

Rasional : menurunkan pembentukan gas dan meningkatkan peristaltik untuk menghilangkan ketidaknyamanan karena akumulasi gas.

h) Anjurkan penggunaan posisi rekumben lateral kiri

Rasional : memungkinkan gas meningkatkan dari kolon desenden ke sigmoid, memudahkan pengeluaran.

i) Infeksi hemoroid pada perineum. Anjurkan penggunaan es secara 20 menit setiap 24 jam, penggunaan bantal untuk peninggian pelvis sesuai kebutuhan.

Rasional : membantu regresi hemoroid dan varises vulva dengan meningkatkan vasokontriksi, menurunkan ketidak nyamanan dan gatal, dan meningkatkan fungsi usus normal.

j) Palpasi kandung kemih, perhatikan adanya rasa penuh. Memudahkan berkemih periodik setelah pengangkatan kateter indwelling.

Rasional : kembali fungsi kandung kemih normal memerlukan 4-7 hari dan overdistensi kandung kemih menciptakan perasaan dan ketidaknyamanan.

c. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman pada konsep diri, transmisi / kontak interpersonal, kebutuhan tidak terpenuhi.

- Tujuan : ansietas dapat berkurang atau hilang.

- Kriteria hasil :

a) Mengungkapkan perasaan ansietas

b) Melaporkan bahwa ansietas sudah menurun

c) Kelihatan rileks, dapat tidur / istirahat dengan benar.

- Intervensi :

a) Dorong keberadaan atau partisipasi pasangan

Rasional : memberikan dukungan emosional; dapat mendorong mengungkapkan masalah.

b) Tentukan tingkat ansietas pasien dan sumber dari masalah. Mendorong pasien atau pasangan untuk mengungkapkan keluhan atau harapan yang tidak terpenuhi dalam proses ikatan/menjadi orangtua.

c) Bantu pasien atau pasangan dalam mengidentifikasi mekanisme koping baru yang lazim dan perkembangan strategi koping baru jika dibutuhkan.

Rasional : membantu memfasilitasi adaptasi yang positif terhadap peran baru, mengurangi perasaan ansietas.

d) Memberikan informasi yang akurat tentang keadaan pasien dan bayi.

Rasional : khayalan yang disebabkan informasi atau kesalahpahaman dapat meningkatkan tingkat ansietas.

e) Mulai kontak antara pasien/pasangan dengan baik sesegera mungkin.

Rasional : mengurangi ansietas yang mungkin berhubungan dengan penanganan bayi, takut terhadap sesuatu yang tidak diketahui, atau menganggap hal yang buruk berkenaan dengan keadaan bayi.

d. Harga diri rendah berhubungan dengan merasa gagal dalam peristiwa kehidupan.

- Tujuan : tidak lagi mengungkapkan perasaan negatif diri dan situasi

- Kriteria hasil :

a) Mengungkapkan pemahaman mengenai faktor individu yang mencetuskan situasi saat ini.

b) Mengekspresikan diri yang positif.

- Intervensi :

a) Tentukan respon emosional pasien / pasangan terhadap kelahiran sesarea.

Rasional : kedua anggota pasangan mungkin mengalami reaksi emosi negatif terhadap kelahiran sesarea meskipun bayi sehat, orangtua sering berduka dan merasa kehilangan karena tidak mengalami kelahiran pervagina sesuai yang diperkirakan.

b) Tinjau ulang partisipasi pasien/pasangan dan peran dalam pengalaman kelahiran. Identifikasi perilaku positif selama proses prenatal dan antepartal.

Rasional : respon berduka dapat berkurang bila ibu dan ayah mampu saling membagi akan pengalaman kelahiran, sebagai dapat membantu menghindari rasa bersalah.

c) Tekankan kemiripan antara kelahiran sesarea dan vagina. Sampaikan sifat positif terhadap kelahiran sesarea. Dan atur perawatan pasca patum sedekat mungkin pada perawatan yang diberikan pada pasien setelah kelahiran vagina.

Rasional: pasien dapat merubah persepsinya tentang pengalaman kelahiran sesarea sebagaiman persepsinya tentang kesehatannya / penyakitnya berdasarkan pada sikap professional.

e. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan / kulit rusak.

- Tujuan : infeksi tidak terjadi

- Kriteria hasil :

a) Luka bebas dari drainase purulen dengan tanda awal penyembuhan.

b) Bebas dari infeksi, tidak demam, urin jernih kuning pucat.

- Intervensi :

a) Anjurkan dan gunakan teknik mencuci tangan dengan cermat dan pembuangan pengalas kotoran, pembalut perineal dan linen terkontaminasi dengan tepat.

Rasional : membantu mencegah atau membatasi penyebaran infeksi.

b) Tinjau ulang hemogolobin / hematokrit pranantal ; perhatikan adanya kondisi yang mempredisposisikan pasien pada infeksi pasca operasi.

Rasional : anemia, diabetes dan persalinan yang lama sebelum kelahiran sesarea meningkatkan resiko infeksi dan memperlambat penyembahan.

c) Kaji status nutrisi pasien. Perhatikan penampilan rambut, kuku jari, kulit dan sebagainya Perhatikan berat badan sebelum hamil dan penambahan berat badan prenatal.

Rasional : pasien yang berat badan 20% dibawah berat badan normal atau yang anemia atau yang malnutrisi, lebih rentan terhadap infeksi pascapartum dan dapat memerlukan diet khusus.

d) Dorong masukkan cairan oral dan diet tinggi protein, vitamin C dan besi.

Rasional : mencegah dehidrasi ; memaksimalkan volume, sirkulasi dan aliran urin, protein dan vitamin C diperlukan untuk pembentukan kolagen, besi diperlukan untuk sintesi hemoglobin.

e) Inspeksi balutan abdominal terhadap eksudat atau rembesan. Lepasnya balutan sesuai indikasi.

Rasional : balutan steril menutupi luka pada 24 jam pertama kelahiran sesarea membantu melindungi luka dari cedera atau kontaminasi. Rembesan dapat menandakan hematoma.

f) Inspeksi insisi terhadap proses penyembuhan, perhatikan kemerahan udem, nyeri, eksudat atau gangguan penyatuan.

Rasional : tanda-tanda ini menandakan infeksi luka biasanya disebabkan oleh steptococus.

g) Bantu sesuai kebutuhan pada pengangkatan jahitan kulit, atau klips.

Rasional : insisi biasanya sudah cukup membaik untuk dilakukan pengangkatan jahitan pada hari ke 4 / 5.

h) Dorong pasien untuk mandi shower dengan menggunakan air hangat setiap hari.

Rasional :Mandi shower biasanya diizinkan setelah hari kedua setelah kelahiran sesarea, meningkatkan hiegenis dan dapat merangsang sirkulasi atau penyembuhan luka.

i) Kaji suhu, nadi dan jumlah sel darah putih.

Rasional : Demam paska operasi hari ketiga, leucositosis dan tachicardia menunjukkan infeksi. Peningkatan suhu sampai 38,3 C dalam 24 jam pertama sangat mengindentifikasikan infeksi.

j) Kaji lokasi dan kontraktilitas uterus ; perhatikan perubahan involusi atau adanya nyeri tekan uterus yang ekstrem.

Rasional : Setelah kelahiran sesarea fundus tetap pada ketinggian umbilikus selama sampai 5 hari, bila involusi mulai disertai dengan peningkatan aliran lokhea, perlambatan involusi meningkatkan resiko endometritis. Perkembangan nyeri tekan ekstrem menandakan kemungkinan jaringan plasenta tertahan atau infeksi.